CIPATAT,BBPOS- Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Kertamukti dan Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, di Kampung Nyomplong, hingga kini masih terputus setelah setahun berlalu.
Di antara dua kampung yang dipisahkan aliran Sungai Cimeta, sebagian warga masih memilih menyeberangi sungai dengan berjalan kaki. Mereka tahu risikonya, tetapi jarak yang lebih dekat, waktu yang lebih singkat, dan ongkos yang lebih ringan membuat pilihan berbahaya itu tetap ditempuh.
Derasnya arus Sungai Cimeta menjadi saksi bagaimana kebutuhan hidup kerap memaksa warga mengambil jalan yang seharusnya tak perlu mereka pilih.
Tak ada yang benar-benar bisa menjamin keselamatan. Air sungai dapat berubah dalam hitungan waktu, terlebih ketika hujan turun di wilayah hulu. Ingatan warga pun masih lekat dengan banjir bandang pada Maret 2025 yang menerjang kawasan tersebut.
Bencana kala itu bukan hanya memutus jembatan gantung. Puluhan rumah di wilayah Nyalindung turut luluh lantak diterjang derasnya air.
Kini, yang tersisa dari jembatan itu hanyalah dua tiang baja dan dua tali seling yang menjuntai menuju dasar Sungai Cimeta. Sisanya telah hilang bersama derasnya arus dan waktu.
Sisa Dua Tiang dan Tali yang Menjuntai
Warga setempat, Fuji, mengatakan jembatan gantung tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat dari dua wilayah yang dipisahkan sungai.
Jembatan itu bukan sekadar bentangan besi dan tali. Bagi warga, ia adalah jalan menuju sawah, pasar, kantor kecamatan, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.
“Saat ini yang tersisa hanya dua tiang baja dan dua tali seling yang menjuntai ke dasar Sungai Cimeta,” kata Fuji saat ditemui, Senin (17/8).
Menurut dia, warga Kampung Baru yang hendak menuju pasar juga kerap menggunakan jalur tersebut karena jaraknya lebih dekat jika ditempuh dengan berjalan kaki. Jalur itu bahkan dapat mengantarkan warga hingga kawasan yang tak jauh dari Koramil Cipatat.
Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan biaya, berjalan kaki melalui jalur jembatan menjadi pilihan yang sangat berarti.
“Warga yang terbatas biayanya memilih lewat sini dengan berjalan kaki, misalnya ke kantor kecamatan, ke pasar, atau keperluan lainnya,” ujarnya.
Ketika Jalan Pendek Berubah Menjadi Jalan Panjang
Putusnya jembatan membuat kehidupan warga ikut berubah. Mereka yang tak berani menyeberangi sungai terpaksa memutar melalui jalur lain.
Jarak yang sebelumnya dapat dipangkas dengan beberapa langkah kaki kini berubah menjadi perjalanan panjang dengan ongkos yang harus kembali dikeluarkan.
Fuji menuturkan, untuk membeli obat di apotek, memenuhi kebutuhan rumah tangga, ataupun mengantar kebutuhan anak, warga sebenarnya cukup berjalan kaki melalui jembatan tersebut.
Namun, sejak jembatan terputus, kebutuhan sederhana itu bisa berubah menjadi beban tambahan.
“Kalau memutar, ongkosnya lumayan besar. Sekali pulang-pergi bisa mencapai Rp60.000,” katanya.
Bagi sebagian orang, Rp60.000 mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi warga yang harus mengatur pengeluaran rumah tangga dari hari ke hari, angka itu dapat berarti banyak.
Karena itulah, warga berharap pemerintah segera turun tangan mengembalikan akses yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas mereka.
“Pak Bupati, Pak Gubernur, kami sangat berharap jembatan ini bisa diperbaiki dan bisa dilalui kembali. Kalau jembatan ini sudah ada, pengeluaran warga tidak menjadi besar karena cukup berjalan kaki tanpa perlu ongkos,” ucap Fuji.
Pernah Diperbaiki dengan Tenaga Warga
Ketua RT setempat, Zaen, mengatakan masyarakat sebenarnya tidak tinggal diam. Ketika kerusakan jembatan masih memungkinkan untuk diperbaiki secara swadaya, warga berusaha turun tangan.
Namun, kondisi jembatan kini sudah berbeda. Kerusakan yang semula masih dapat ditangani dengan tenaga dan kemampuan warga, kini telah berubah menjadi kerusakan total. Jembatan putus sepenuhnya, sementara membangun kembali konstruksi penghubung di atas sungai bukan pekerjaan yang mampu mereka lakukan sendiri.
“Warga berharap ada pihak yang bisa membantu memperbaiki jembatan ini agar bisa dilalui kembali seperti sedia kala,” tutur Zaen.
Setahun berlalu. Dua tiang baja masih berdiri, sementara dua tali seling menjuntai di atas Sungai Cimeta.
Di bawahnya, air terus mengalir tanpa mengenal musim dan tanpa menunggu siapa pun.
Bagi warga, jembatan itu bukan semata-mata sebuah bangunan yang roboh. Ia adalah jarak yang menjadi panjang, ongkos yang bertambah, dan waktu yang terbuang.
Dan setiap kali seseorang memilih menyeberangi derasnya Sungai Cimeta, ada satu harapan yang diam-diam ikut diseberangkan: semoga suatu hari nanti, mereka kembali memiliki jembatan yang aman untuk pulang dan pergi.
