• Login
  • Register
Bandung Barat Pos
No Result
View All Result
  • Info KBB
  • Sosial
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Opini
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Seputar Desa
Sabtu, 2 Mei, 2026
  • Info KBB
  • Sosial
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Opini
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Seputar Desa
No Result
View All Result
Tulis
Bandung Barat Pos
No Result
View All Result
  • Info KBB
  • Sosial
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Opini
  • Nasional
  • Pariwisata
  • Olahraga
  • Seputar Desa

Proyek Irigasi Perpompaan Rp112 Juta di Cipatat Jadi Sorotan: Petani Menjerit, Sawah Tetap Kering Kerontang

by adikamil
27 Agustus 2025
in Ekonomi, Headline, Info KBB, Seputar Desa
Reading Time: 2 mins read
Proyek Irigasi Perpompaan Rp112 Juta di Cipatat Jadi Sorotan: Petani Menjerit, Sawah Tetap Kering Kerontang
0
SHARES
81
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

CIPATAT, BBPOS- Nasib petani di Kampung Ciruman, Desa Mandalasari, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, semakin memprihatinkan.
‎
‎Proyek pembangunan saluran irigasi perpompaan senilai Rp112.800.000 yang didanai dari APBN Tahun 2024, justru menjadi sumber kekecewaan dan pertanyaan besar. Pasalnya, setahun berlalu, air tak kunjung mengalir ke sawah mereka.
‎
‎Alih-alih membawa berkah, proyek yang seharusnya menjadi solusi pengairan ini malah dianggap mubazir oleh sejumlah petani.
‎
‎Yanto (42), seorang petani setempat, mengungkapkan kekesalannya, “Kalau proyek ini disalurkan ke rumah warga mungkin lebih bermanfaat. Tapi kalau untuk sawah, tetap saja kering. Tidak ada air dari selokan, ya tidak ada air.” ujarnya.
‎
‎Yanto uga mempertanyakan pengelolaan proyek yang terkesan tidak jelas.
‎
‎”Siapa yang mengelola ini? Kok malah bongkar pasang ke Citarum? Seharusnya ditanam, bukan dibongkar pasang seperti ini,” tegasnya.
‎
‎Senada dengan Ade, Mak Apong (65) juga mengeluhkan pembuatan penampungan air dari Citarum yang tidak efektif karena debit air yang terlalu kecil.
‎
‎”Sampai ke sini juga airnya kecil, jadi tidak semua sawah terendam. Gak bisa disawahin,” ujarnya.
‎
‎Ia juga khawatir dengan lokasi mesin yang berada di bawah tebing Citarum yang rawan longsor.
‎
‎”Percuma bangun bangunan, apalagi mesinnya di bawah tebing. Khawatir kalau tebingnya longsor,” keluhnya.

‎Warga Nilai Mubazir

‎Ketua RT 2, Jajang, setempat pun menyesalkan keputusan untuk membangun proyek baru daripada memperbaiki saluran irigasi yang sudah ada.
‎
‎”Kata masyarakat mah mubazir, soalnya tanpa kompromi,” ujarnya.
‎
‎Ia menambahkan bahwa anggaran tersebut akan lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk pembuatan sumur bor.
‎
‎”Kalau anggarannya untuk sumur bor, pasti bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.
‎
‎Proyek irigasi yang seharusnya menjadi solusi bagi masalah pengairan sawah, kini justru menjadi sumber kekecewaan dan pertanyaan.
‎
‎Mengapa proyek ini tidak memberikan manfaat nyata bagi petani? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung di benak para petani Cipatat, Bandung Barat.
‎

BP3K: Kendala Ada di Pengelolaan

‎Terpisah Koordinator BP3K, Ramdan mengatakan, irigasi perpompaan di Mandalasari pertama itu dijalankan oleh kelompok. Terkendalanya itu dari anggotanya karena kan diminta iuran untuk bayar listrik.
‎
‎”Ketua-ketua lagi mah apa fungsinya ada ketua, harus pakai listrik tapi anggota gak ngerti,” ungkapnya.
‎
‎Menanggulangi hal ini, Ramdan mengaku akan mengumpulkan kembali para anggotanya supaya di rawat lagu agar lebih bermanfaat.
‎
‎”Satu irigasi perpompaan itu lumayan bisa mengairi sawah seluas 10 hektare, karena untuk mesin itu tidak mungkin lebih dari itu,” ungkapnya.
‎
‎Menurut Ramdan, sebenarnya untuk biaya listrik itu tergantung murah karena masuk dalam kategori sosial.
‎
‎Kedepan, Ramdan mengatakan, akan mencoba untuk berkoordinasi dengan para kelompok tani yang mengelola itu supaya bisa mengumpulkan para petani yang membutuhkan air sekalian supaya ada kesepakatan untuk pembelian pulsanya.
‎
‎”Mungkin pas kemarin musim hujan tidak dipakai karena ada air dari irigasi atau curah hujan atau pas kemarin hujan dibiarkan trus pas membutuhkan air kelompok tani itu bingung tidak ada pemasukan untuk pemeliharaan,” pungkasnya.

Dua Titik Irigasi Tak Berfungsi

‎Perlu diketahui berdasarkan penelusuran di lapangan, ada 2 titik irigasi perpompaan dengan biaya sekitar 112 juta yang dibangun di Desa Mandalasari tidak berfungsi sehingga para petani belum merasakan manfaatnya.
‎
‎Di lokasi pertama di Kampung Ciruman, air yang terdapat di dalam bak penampungan air hanya terisi sekitar 1/4, dan kondisi pesawahan di sekitar bak tersebut dalam kondisi kering.
‎
‎Sehingga hektaran lahan pesawahan tersebut sudah beberapa tahun tak bisa ditanami padi.
‎
‎Di lokasi kedua, di Kampung Rawasari memiliki 3 bak penampungan, di bak pertama yang persis berada di pinggir sungai terisi air sangat penuh. Namun di bak kedua hanya terisi air sekitar 1/4, bahkan di bak penampungan terakhir air sama sekali tak terlihat.
‎
‎Selain itu banyak kerusakan pipa-pipa, mulai dari yang menyusut, bolong, hingga sambungan pipa terputus.

Tags: #kabupaten bandung barat#pemda bandung baratBupati Bandung Baratdinas ketahanan pangan dan pertanianJeje Ritchie Ismail-Asep Ismailpetani cipatatsawah kekeringan
Previous Post

Petani Terancam Gagal Tanam, Lukman: Segera Koordinasi dengan Dinas PUTR

Next Post

Irigasi Rusak Parah, Pertanian di Cipatat Terancam Lumpuh

adikamil

Next Post
Irigasi Rusak Parah, Pertanian di Cipatat Terancam Lumpuh

Irigasi Rusak Parah, Pertanian di Cipatat Terancam Lumpuh

Please login to join discussion
Bandung Barat Pos

© PT. Bandung Barat Media | Bandung Barat Pos

  • Home
  • Tentang Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami

© PT. Bandung Barat Media | Bandung Barat Pos

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In