CIPATAT,BBPOS- Kerusakan parah Daerah Irigasi (D.I.) Rajamandala mengancam keberlangsungan pertanian di empat desa di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada produksi padi dan kesejahteraan petani.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Cipatat, Ramdan, mengungkapkan perbaikan irigasi primer dan sekunder sudah lama diajukan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), namun belum ada respons serius.
“Banyak titik longsor di D.I. Rajamandala, dan normalisasi yang kami ajukan ke PUTR belum ditanggapi. Jika kerusakan di HM 10 tidak segera diperbaiki, lima tahun ke depan sawah di empat desa tidak akan teraliri air,” kata Ramdan, Kamis (28/8/2025).
Ia menjelaskan kerusakan terparah terjadi di Citapen, HM 10, dan Mandalasari. Bendungan di Citapen bahkan jebol akibat sedimentasi, sehingga menghambat aliran air ke Desa Rajamandala Kulon, Mandalasari, dan Mandalawangi. Kondisi ini memaksa Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mencari cara darurat, seperti menggunakan drum untuk mengairi sawah di daerah Bungur.
Menurutnya, Dinas Pertanian sebenarnya sudah melaksanakan perbaikan saluran tersier di beberapa titik, seperti Bungur, Cikalapa, Cipatat, Ciburahol, Kertamukti, dan Sarimukti. Namun, perbaikan irigasi primer dan sekunder sepenuhnya menjadi kewenangan PUTR.
“Koordinasi dengan pihak PU sudah sering dilakukan, termasuk dengan Pak Wahid. Bahkan kabarnya pengajuan perbaikan sudah diajukan beberapa kali, tetapi tanggapannya belum serius,” tambah Ramdan.
Ia menegaskan jika tidak segera ditangani, kerusakan irigasi ini berpotensi menimbulkan dampak serius, mulai dari penurunan produksi padi, kerugian ekonomi petani, hingga potensi krisis pangan dan konflik sosial akibat perebutan air.
Masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan agar keberlangsungan pertanian di Cipatat tetap terjaga.

