NGAMPRAH,BBPOS- Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat (KBB), dr. Lia, mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menganggap susu kental manis sebagai pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak. Produk tersebut memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga penggunaannya harus disesuaikan dengan fungsi yang sebenarnya.
Menurut dr. Lia, masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru dengan menjadikan susu kental manis sebagai minuman utama anak. Padahal, kandungan produk tersebut lebih didominasi gula dibandingkan kandungan susu.
“Masih banyak masyarakat yang menganggap susu kental manis sama dengan susu murni. Padahal kandungan gulanya cukup tinggi, berkisar 40 hingga 60 persen. Ini yang perlu terus kita edukasi,” kata dr. Lia, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, edukasi mengenai konsumsi pangan bergizi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menurutnya, susu kental manis bukan produk yang harus dihindari sepenuhnya. Namun, penggunaannya tidak boleh dijadikan sumber utama pemenuhan gizi harian anak karena tingginya kadar gula dapat meningkatkan risiko obesitas hingga penyakit metabolik jika dikonsumsi secara berlebihan.
“Susu kental manis tetap boleh dikonsumsi, tetapi bukan sebagai susu yang diminum setiap hari oleh anak-anak. Gunakan sesuai fungsinya sebagai pelengkap makanan atau minuman, bukan sebagai sumber gizi utama,” ujarnya.
Dr. Lia menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak, masyarakat sebaiknya memilih produk yang memang diformulasikan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.
Selain itu, Dinkes KBB juga menyoroti meningkatnya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula di kalangan anak-anak dan remaja. Fenomena tersebut dinilai menjadi tantangan baru di tengah upaya pemerintah menekan angka stunting.
“Anak-anak sekarang semakin akrab dengan minuman kemasan, minuman berbasis susu, hingga kopi siap saji yang kandungan gulanya tinggi. Kebiasaan ini perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi meningkatkan kasus obesitas,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya berupaya mencegah kekurangan gizi, tetapi juga mengantisipasi meningkatnya kasus kelebihan gizi akibat pola konsumsi yang tidak seimbang.
Karena itu, Dinkes KBB terus memperkuat edukasi mengenai pola makan sehat, pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak, serta pentingnya memilih makanan bergizi seimbang.
“Ancaman kesehatan anak saat ini tidak hanya berasal dari kekurangan gizi, tetapi juga dari pola konsumsi tinggi gula yang selama ini dianggap wajar. Edukasi kepada masyarakat harus terus diperkuat agar anak-anak tumbuh sehat dan berkualitas,” pungkasnya.

