SINDANGKERTA,BBPOS- Kepemimpinan Camat Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Agus Achmad Setiawan, menjadi perhatian publik setelah dinilai mampu menghadirkan perubahan cepat dalam tata kelola pemerintahan dan pendekatan kepada masyarakat.
Dalam dinamika pemerintahan tingkat kecamatan, sosok pemimpin kerap menjadi penentu arah kebijakan dan kualitas pelayanan publik.
Hal itu kini terlihat di Kecamatan Sindangkerta, di mana Agus Achmad Setiawan mulai menunjukkan karakter kepemimpinan yang dinilai progresif, responsif, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Belum genap satu bulan menjabat, mantan Camat Padalarang tersebut disebut berhasil mendorong transformasi, baik secara administratif maupun sosial. Pendekatan yang dibangun tidak hanya berfokus pada birokrasi formal, tetapi juga menyentuh ruang-ruang sosial dan keagamaan sebagai basis penguatan legitimasi kepemimpinan.
Tokoh masyarakat Sindangkerta, Ade Otoy, menilai perubahan tersebut terasa nyata di lapangan. Ia menyebut, ada pergeseran pola kepemimpinan dari yang sebelumnya cenderung administratif menjadi lebih partisipatif.
“Perubahannya terlihat jelas. Kantor kecamatan sekarang lebih representatif, lalu pak camat aktif turun langsung ke masyarakat, keliling ke masjid, dan menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh lokal,” ujar Ade Otoy, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, langkah tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari strategi membangun kedekatan emosional antara pemerintah dan masyarakat, yang selama ini kerap menjadi celah dalam pelayanan publik.
Di sisi lain, Agus juga dinilai mampu mengonsolidasikan aparatur pemerintahan desa secara efektif. Hal itu tercermin dari capaian Kecamatan Sindangkerta yang menjadi salah satu wilayah tercepat dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
“Ini menunjukkan ada pembinaan yang berjalan dan koordinasi yang kuat. Jarang ada camat yang turun langsung sampai ke level tokoh masyarakat dan kegiatan keagamaan,” katanya.
Ia menegaskan, pendekatan “door to door” serta safari keagamaan yang dilakukan secara rutin dinilai menjadi bentuk konkret kepemimpinan yang tidak berjarak. Model ini sekaligus memperkuat posisi camat sebagai representasi negara di tingkat lokal.
Tak hanya itu, pembenahan internal birokrasi juga menjadi bagian dari strategi perubahan. Penataan kantor kecamatan yang lebih rapi dan tertib mencerminkan upaya membangun budaya kerja yang lebih profesional.
“Sekarang camatnya seperti hadir di semua lini. Cepat tanggap, sering turun langsung, dan dekat dengan warga. Itu yang membuat masyarakat cepat menaruh simpati,” pungkasnya.


