NGAMPRAH,BBPOS- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) belum dapat memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa dan warga yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinkes KBB dr. Lia Nurliana mengatakan, kepastian penyebab masih menunggu hasil investigasi tim di lapangan. Pemeriksaan terkendala karena sampel makanan yang dikonsumsi para korban sudah tidak tersedia.
“Terus terang sampel kami tidak dapat. Karena kami baru mendapatkan laporan, makanan sudah tidak ada di dapurnya,” ujar Lia, Sabtu (12/9).
Meski tidak mendapatkan sampel makanan, Dinkes tetap melakukan penelusuran terhadap proses penyediaan MBG, mulai dari bahan makanan datang, pengolahan, distribusi hingga makanan dikonsumsi oleh siswa.
Menurut Lia, hasil pemeriksaan medis dan wawancara terhadap pasien menunjukkan adanya keluhan yang mengarah pada gangguan akibat pencemaran. Namun, hasil tersebut belum dapat memastikan gangguan kesehatan disebabkan oleh makanan MBG.
“Didapatkan bahwa setelah memakan makanan MBG, mereka mengalami keluhan. Tapi baru diduga, karena kita tidak tahu setelah pulang ke rumah mereka makan apa,” katanya.
Ia mengatakan, dugaan keterkaitan dengan MBG menguat karena lebih dari dua atau tiga orang mengalami keluhan serupa setelah mengonsumsi makanan yang sama.
Hingga kini, tim masih melakukan pendataan terhadap seluruh korban. Sebagian pasien mendapat penanganan di rumah sakit, puskesmas, dan klinik, termasuk sejumlah korban yang dirawat di luar wilayah Bandung Barat.
“Kami masih menunggu rekapan. Data ini satu pintu melalui ketua satgas,” ujarnya.
Dari penanganan sementara, kondisi pasien yang telah mendapat perawatan relatif stabil. Keluhan yang dialami berada pada kategori ringan hingga sedang dan belum ditemukan pasien dalam kondisi berat.
“Yang terpenting adalah mencegah pasien jatuh ke keadaan yang lebih berat. Alhamdulillah kemarin kami menangani dari yang ringan sampai sedang, tidak sampai berat,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi apabila terjadi penambahan pasien, Dinas juga telah berkoordinasi dengan sejumlah rumah sakit. Salah satu rumah sakit bahkan telah menyiapkan sembilan tempat tidur berikut tenaga medis dan obat-obatan.
Selain itu, tim gabungan bersama unsur kecamatan dan pemerintah desa dijadwalkan melakukan investigasi langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga menjadi sumber makanan tersebut.
Investigasi dilakukan untuk menelusuri proses pengolahan dan distribusi makanan serta memastikan seluruh prosedur dan standar operasional penyediaan MBG telah dijalankan.
Ia menegaskan, Dinkes belum mengambil kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan tersebut dan masih menunggu hasil investigasi serta rekapan data korban.
“Jadi kami belum bisa menyimpulkan ini keracunan atau bukan. Kami masih melakukan pendalaman,” pungkasnya.
