CIPATAT,BBPOS- Krisis irigasi yang tak kunjung ditangani membuat puluhan hektare lahan persawahan di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, kehilangan fungsi produktifnya.
Sawah yang selama ini bergantung pada pasokan air dari Daerah Irigasi (D.I) Rajamandala kini sebagian besar beralih menjadi lahan palawija, bahkan tidak sedikit yang dibiarkan terlantar.
Persoalan tersebut bukan terjadi dalam hitungan bulan. Sejumlah petani mengaku kerusakan jaringan irigasi telah berlangsung bertahun-tahun, bahkan ada yang mencapai lebih dari satu dekade tanpa solusi nyata.
Kerusakan ditemukan hampir di seluruh jaringan irigasi, mulai dari sedimentasi yang menumpuk di saluran, kebocoran, pintu air yang tidak berfungsi, tanggul saluran yang jebol, hingga Bendungan Warung Tiwu yang tidak lagi beroperasi optimal.
Akibatnya, pasokan air ke areal pertanian terus menurun dan membuat petani kesulitan mempertahankan pola tanam padi.
Mitra Cai Cikalapa, Desa Rajamandala Kulon, Unang mengatakan luas lahan sawah di wilayahnya mencapai sekitar 30 hektare. Namun saat ini hanya separuhnya yang masih bisa ditanami padi.
“Dari 30 hektare, sekitar 15 hektare masih bisa ditanami padi. Sisanya ada yang ditanami palawija dan ada yang terlantar karena tidak mendapatkan air,” kata Unang. Saat ditemui di Cipatat, Rabu (10/7).
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak 2013 atau sekitar 13 tahun terakhir.
“Saya sudah lama mengelola sawah di sini. Dulu air masih cukup, sekarang semakin sulit. Kerusakan irigasi terus terjadi dan belum ada perbaikan menyeluruh,” ujarnya.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Cinangka. Mitra Cai setempat, Kastari, menyebut dari total 25 hektare lahan sawah yang ada, hanya sekitar 10 hektare yang masih memperoleh aliran air.
“Yang masih bisa ditanami padi hanya sekitar 10 hektare. Selebihnya ditanami palawija atau sudah ditumbuhi semak belukar. Ini berlangsung lebih dari tiga tahun,” ungkapnya.
Sementara di Kampung Ciruman, Desa Mandalasari, kerusakan irigasi membuat produktivitas pertanian nyaris lumpuh.
Sekretaris Kelompok Tani setempat, Jajang, mengatakan dari total 12 hektare sawah, hanya sekitar 2 hektare yang masih memungkinkan ditanami padi.
“Kalau dipaksakan tanam padi, petani bisa rugi karena air tidak mencukupi. Akhirnya banyak yang memilih menanam palawija atau membiarkan lahannya kosong. Kondisi ini sudah hampir empat tahun,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelasakan, tak hanya di Rajamandala Kulon dan Mandalasari, persoalan serupa juga terjadi di sejumlah titik lain di Kecamatan Cipatat. Di antaranya Kampung Bungur, Desa Mandalasari, serta wilayah Desa Mandalawangi yang meliputi Cijengkol, Cisaladah, Kiara Komplek hingga Tagog.
Ia menegaskan, kerusakan Daerah Irigasi Rajamandala yang berlarut-larut kini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan di wilayah selatan Bandung Barat.
“Di tengah dorongan pemerintah meningkatkan produksi pertanian, petani justru dipaksa menghadapi kenyataan pahit, sawah kehilangan air, produksi menurun, dan lahan produktif berubah menjadi tanah kosong,” ungkapnya.
Ia berharap, pemerintah pun didesak segera turun tangan sebelum lebih banyak sawah hilang dari peta pertanian Bandung Barat.

