ERA DIGITAL telah menjadi realitas yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Akses informasi yang cepat, peluang ekonomi baru, serta ruang belajar tanpa batas menjadi kemudahan yang dinikmati generasi hari ini. Namun, di balik manfaat tersebut, era digital juga membawa pengaruh yang perlahan membentuk cara berpikir, gaya hidup, bahkan cara beragama generasi muda. Gen Z—generasi yang lahir dan tumbuh bersama teknologi—menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Gen Z kerap dicap sebagai generasi yang rapuh: mudah stres, rentan secara mental, dan dipenuhi kecemasan. Berbagai laporan menunjukkan meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan anak muda. Namun, melabeli Gen Z sebagai generasi lemah jelas tidak adil. Di balik tantangan itu, mereka menyimpan potensi besar. Gen Z dikenal kritis, adaptif, dan cepat menggerakkan perubahan sosial melalui media sosial. Mereka mampu memviralkan isu, membangun solidaritas, hingga memberi tekanan pada pihak berwenang untuk melakukan perubahan.
Potensi tersebut lahir dari karakter Gen Z sebagai digital native. Namun, ruang digital yang mereka huni sejatinya tidak netral. Ia sarat dengan nilai sekuler dan kapitalistik yang menekankan popularitas, validasi sosial, dan konsumerisme. Tanpa disadari, nilai-nilai ini membentuk pola pikir dan gaya hidup Gen Z dalam keseharian.
Di sisi positif, digitalisasi membuka peluang besar bagi aktivisme. Melalui media sosial, isu lokal dapat memperoleh perhatian global. Gen Z dapat belajar berbagai persoalan, membangun jejaring lintas wilayah, dan menyuarakan isu kemanusiaan, lingkungan, mruang bagi keberanian bersuara, terutama bagi mereka yang sebelumnya terpinggirkan dari ruang publik.
Namun, ruang digital juga melahirkan problem serius. Tekanan sosial, budaya perbandingan, dan standar hidup semu memicu meningkatnya gangguan kesehatan mental. Selain itu, tidak sedikit anak muda mengadopsi gagasan inklusif-progresif secara instan, khususnya terkait isu identitas, gender, dan agama. Pemahaman tersebut sering kali dibentuk oleh potongan konten viral yang dangkal dan tidak utuh, bukan melalui proses berpikir yang mendalam. Inilah bentuk hegemoni informasi yang masif, tetapi sering luput disadari.
Karakter pragmatis Gen Z juga tercermin dalam pola aktivisme digital. Banyak gerakan bersifat reaktif dan sesaat, bergantung pada viralitas. Ukuran keberhasilan sering direduksi pada jumlah like dan share, padahal perubahan sosial yang hakiki menuntut konsistensi dan arah yang jelas.
Karena itu, persoalan generasi tidak cukup diselesaikan dengan imbauan moral semata. Diperlukan perubahan paradigma berpikir. Gen Z perlu dibekali sikap kritis yang berpijak pada fondasi ideologis yang kokoh. Paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan berisiko mengaburkan kompas moral dan identitas. Sebaliknya, Islam menawarkan cara pandang menyeluruh yang mengatur ibadah, akhlak, relasi sosial,hingga solusi atas problem kehidupan.
Dengan paradigma Islam, potensi Gen Z dapat diarahkan pada perubahan yang lebih mendasar dan berkelanjutan. Aktivisme mereka tidak berhenti pada kritik parsial, tetapi mampu menghadirkan solusi sistemik. Gen Z tidak hanya menjadi penonton atau korban algoritma, melainkan aktor perubahan yang sadar arah.
Upaya membangun generasi yang kuat tentu membutuhkan sinergi berbagai pihak. Keluarga berperan menanamkan akidah dan keteladanan nilai. Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang kondusif melalui amar ma’ruf nahi munkar. Sementara negara memegang peran strategis dalam menghadirkan regulasi, kurikulum pendidikan, dan ruang digital yang melindungi generasi muda.
Jika ketiga pilar ini berjalan seiring, Gen Z tidak hanya mampu bertahan di tengah derasnya arus digital, tetapi juga tampil sebagai generasi pemimpin yang membawa perubahan bermakna bagi peradaban.
Jika ketiga pilar ini berjalan seiring, Gen Z tidak hanya mampu bertahan di tengah derasnya arus digital, tetapi juga tampil sebagai generasi pemimpin yang membawa perubahan bermakna bagi peradaban.
Oleh: Lilis Suryani
(Guru dan Pegiat Literasi)

