CIPATAT,BBPOS- Cobaan datang bertubi-tubi kepada keluarga Susi, warga Desa Mandalasari, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sang suami mengalami stroke hingga tak lagi mampu bekerja, sementara Susi sendiri baru menjalani operasi kanker rahim.
Di tengah kondisi tersebut, Susi tetap berusaha bertahan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Luka bekas operasi yang belum sepenuhnya pulih tak membuatnya berhenti mencari penghasilan.
Ia menjahit, memijat, hingga mengumpulkan barang bekas yang masih memiliki nilai jual untuk mendapatkan uang.
Perjalanan keluarga ini bermula saat suami Susi tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri ketika menyantap makanan Lebaran. Setelah mendapat pemeriksaan di rumah sakit, sang suami dinyatakan mengalami stroke.
Sejak saat itu, Susi harus merawat suaminya sekaligus menjadi tumpuan keluarga.
Perlahan kondisi suaminya sempat membaik. Ia bahkan mulai bisa berjalan kembali. Namun, cobaan kembali datang ketika Susi jatuh sakit dan dinyatakan menderita kanker rahim serta kista ginjal.
Susi kemudian menjalani operasi pengangkatan kanker. Saat ditemui di kediamannya Sabtu (29/8), ia masih berada dalam masa pemulihan dan mengaku belum sepenuhnya kuat untuk beraktivitas.
Namun, kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu.
Susi tetap bekerja semampunya untuk mendapatkan uang. Penghasilan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan keperluan rumah tangga.
Persoalan semakin berat karena biaya perjalanan menuju rumah sakit tidak seluruhnya tertanggung. Meski tindakan medis dan pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, biaya transportasi, perjalanan pulang-pergi, serta kebutuhan selama menjalani perawatan harus dicari sendiri.
Kondisi itu membuat Susi memiliki utang sekitar Rp3 juta untuk kebutuhan transportasi dan akomodasi selama menjalani pengobatan. Ia juga memiliki utang sekitar Rp300 ribu di warung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, kebutuhan paling mendasar seperti beras pun terkadang sulit dipenuhi.
Susi mengaku pernah mengganti nasi dengan singkong bakar ketika tidak memiliki cukup uang untuk membeli beras. Penghasilan yang tidak menentu membuat keluarga tersebut harus mengatur kebutuhan dengan sangat ketat.
Belum selesai persoalan tersebut, kondisi suaminya kembali memburuk.
Suami Susi yang sebelumnya mulai bisa berjalan kembali mengalami kelumpuhan dan kini membutuhkan pemeriksaan serta pengobatan lanjutan.
Susi sebenarnya ingin segera membawa suaminya ke rumah sakit. Namun, persoalan biaya perjalanan kembali menjadi kendala.
Bantuan sosial BPNT dan PKH memang diterima keluarga tersebut. Namun, menurut Susi, bantuan itu belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, terutama biaya hidup dan perjalanan berobat.
Kini, Susi hanya berharap kondisi keluarganya bisa kembali membaik.
Ia ingin suaminya mendapatkan pengobatan hingga pulih dan bisa kembali berjalan. Di sisi lain, ia sendiri masih harus menjalani masa pemulihan setelah operasi kanker sambil tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga Susi membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta biaya transportasi pengobatan dirinya dan sang suami.
Bagi Susi, harapan itu sederhana. Ia ingin kembali sehat dan melihat suaminya dapat berdiri serta menjadi sandaran keluarga seperti sebelumnya.


