NGAMPRAH,BBPOS- Persoalan akses pendidikan di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mendapat perhatian Ketua DPRD KBB Muhammad Mahdi.
Ia meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah darurat untuk menjamin keselamatan siswa yang masih menggunakan rakit bambu saat berangkat dan pulang sekolah.
Mahdi mengatakan, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut keselamatan anak-anak sekaligus akses mereka terhadap pendidikan.
“Saya sudah dapat laporan dan melihat video anak-anak SDN Budiharja Cililin yang harus naik rakit bambu untuk berangkat sekolah,” kata Mahdi, Senin (31/8).
Menurutnya, solusi sementara perlu disiapkan sembari pemerintah menyiapkan pembangunan akses yang lebih permanen. Beberapa alternatif yang dinilai dapat dilakukan antara lain menyediakan sarana penyeberangan yang lebih aman atau membangun jembatan sementara.
“Saya segera berkoordinasi dengan pihak-pihak dan dinas terkait untuk mencari solusi cepat dulu, seperti jembatan darurat atau perahu penyeberangan yang aman,” ujarnya.
Mahdi menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi infrastruktur. Menurutnya, pemerintah memiliki kewajiban memastikan anak-anak dapat bersekolah tanpa harus menghadapi risiko keselamatan dalam perjalanan.
“Sebagai orang tua dan sebagai Ketua DPRD, tentu saya sedih melihatnya. Ini tanggung jawab kita bersama karena ini bukan semata-mata masalah akses, tapi bagaimana kita menjamin hak-hak dasar anak dalam mendapatkan pendidikan yang aman dan layak,” katanya.
Untuk jangka panjang, DPRD KBB akan mendorong pembangunan jembatan permanen agar akses masyarakat dan pelajar di wilayah tersebut tidak lagi bergantung pada rakit.
“Untuk jangka panjangnya, DPRD akan mendorong dan kawal anggaran jembatan permanen masuk di APBD,” tegas Mahdi.
Ia memastikan persoalan tersebut akan dikoordinasikan dengan perangkat daerah terkait untuk mencari solusi yang dapat segera diterapkan.
“Kepada orang tua, guru, dan anak-anak SDN Budiharja: kami tidak melupakan kalian. Mohon bersabar, kami akan bekerja keras untuk ini,” ujarnya.
Sebelumnya, aktivitas pelajar menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial. Rakit tersebut digunakan warga Kampung Sadang untuk menuju kawasan Kampung Gombong, lokasi SDN Budiharja.
Ketua RT 05 Desa Budiharja, Agus Sumpena, mengatakan jalur rakit dipilih karena akses melalui darat membutuhkan waktu lebih lama.
Menurut Agus, perjalanan melalui jalur darat mencapai sekitar 2,5 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit berjalan kaki.
Rakit tersebut tidak hanya digunakan oleh pelajar, tetapi juga menjadi salah satu akses warga untuk beraktivitas sehari-hari. Kondisi itu membuat masyarakat berharap adanya akses yang lebih aman dan permanen dari pemerintah.


