Bocah Ini Hanya Berbaring Selama Hidupnya yang Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

Widia Sri Rahayu (10) seorang balita di Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menderita penyakit lumpuh selama 8 tahun. foto: BBPOS/Suwitno

Cikalong, BBPOS – Widia Sri Rahayu (10) seorang balita di Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menderita penyakit lumpuh selama 8 tahun.

Perempuan yang sudah terbaring selama 8 tahun itu warga Kampung Cigintung RT01 RW02, Desa Ciptagumati, Kecamatan Cikalongwetan. Ironisnya, penyakit yang sudah diderita sejak umur 2 tahun ini tidak mendapat perhatian sama sekali dari pemerintah.

Sehari-hari, Widia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur di rumahnya. Ia sama sekali tak bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Keadaan ini semakin sulit lantaran kondisi ekonomi keluarga Widia yang serba pas-pasan.

Sang ibu, Rita mengaku, dirinya hanya tinggal berdua dengan Widia. Dalam menunjang perekonomiannya sehari-hari, ia hanya mengandalkan uang dari hasil jualan jajanan kecil dikediamannya.

“Tidak mampu lagi membawa berobat Widia karena penghasilan perhari pun hanya Rp.25 ribu paling besar Rp.35 ribu,” ujar Rita kepada BBPOS, Selasa (25/5/2021).

Ia menjelaskan, Widia semula sehat dan tidak sakit apapun. Namun pada saat umur 2 tahun, anak semata wayangnya jatuh ke lantai dan mengalami panas tinggi disertai kejang-kejang.

Ia menambahkan, dirinya sempat membawa Widia ke Rumah Sakit Kartini Padalarang. Lantaran tidak memiliki biaya, Rita pun hanya merawat anaknya di rumah saja.

“Sempat demam hingga badannya tidak bisa digerakan, saya bawa ke RS Kartini Padalarang, kata dokter disana harus dibawa ke RSUD Cibabat, kan saya tidak punya uang,” ungkapnya.

Selama 8 tahun terbaring sakit, Widia hanya dua kali mendapat bantuan medis. Namun hasilnya nihil. Kondisi fisiknya pun kian hari kian melemah.

“Dibawa berobat hanya dua kali karena tidak memiliki uang lagi, sedangkan untuk berobat membutuhkan biaya besar, ingin bawa berobat anak saya tapi mau bagaimana lagi, jaminan kesehatan seperti KIS saja tidak punya,” katanya.

Meski sudah berusaha mencari penghasilan tambahan, Rita mengaku uang yang Ia kumpulkan belum cukup untuk membawa anaknya untuk berobat ke terapi atau perawatan medis.

Di tengah kondisi yang sulit ini, Rita berharap uluran tangan dari orang-orang sekitar. Ia berharap ada bantuan dan perhatian dari pemerintah daerah maupun dari dermawan yang peduli dengan kesembuhan anaknya dari lumpuh.

“Saya berharap kepada pemerintah agar memperhatikan rakyatnya, terlebih untuk pengobatan anak saya,” pungkasnya.