11 Kecamatan di Bandung Barat Rawan Longsor

Ngamprah, BBPOS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) meminta masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem, khususnya di 11 kecamatan rawan bencana hidrometeologi.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD KBB, Duddy Prabowo menjelaskan, salah satu faktor risiko tanah longsor di 11 kecamatan tersebut lantaran kondisi tanah labil serta kemiringan tanah pun rata-rata mencapai 25 hingga 30 derajat.

“Kondisi tanah labil dan tidak memiliki akar rambatan sehingga sangat rapuh ketika tergerus air dengan intensitas tinggi,” ujar Duddy saat ditemui, Selasa (5/1/2021).

Ia menambahkan, 11 kecamatan rawan bencana di KBB di antaranya Kecamatan Rongga, Gununghalu, Cipongkor, Sindangkerta, Cililin. Lalu Kecamatan Cipatat, Saguling, Cisarua, Parongpong, Lembang, dan Ngamprah yang semuanya rawan longsor dan banjir bandang saat musim penghujan.

“Untuk warga-warga di kecamatan itu, diminta waspada ketika turun hujan karena dikhawatirkan terjadi pergerakan tanah apalagi saat hujan deras,” katanya.

Menurut Duddy, untuk mendeteksi potensi bencana di wilayahnya, pihaknya telah bekerjasama dengan BMKG untuk memasang alat deteksi pergerakan tanah di beberapa lokasi di antaranya Cililin, Cikalongwetan, Cisarua, Ngamprah, dan Saguling.

“Di beberapa titik itu sudah terpasang early warning system atau alat pendeteksi pergerakan tanah seperti longsor. Nantinya jika sewaktu-waktu turun hujan yang sangat lebat dan ada pergerakan tanah bisa lebih awal dan cepat memberitahu kepada warga untuk segera mengevakuasi dirinya,” bebernya.

Untuk meminimalisir dampak dari bencana hidrometeorologi, pengetahuan masyarakat soal mitigasi bencana pun harus ditingkatkan agar mereka mengetahui apa saja yang mesti dilakukan ketika bencana itu terjadi.

“Diharapkan warga bisa mengenali potensi bencana yang ada di sekitarnya, tahu harus berbuat apa, dan menyelamatkan diri kemana karena itu yang paling penting,” jelasnya.

BPBD Bandung Barat saat ini menyiapkan 50 personel lapangan yang akan bergerak jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri serta aparatur kewilayahan untuk menghadapi musim penghujan.

“Karena aparatur wilayah seperti kecamatan dan desa yang dekat dengan warganya, serta dibantu peran relawan di setiap daerah masing-masing wilayah,” tandasnya.