Teori Empati dan Homofili Umbara Menyikapi Omnibus Law

Moch Galuh Fauzi Mahasiswa S2 Kebijakan Publik UNPAD Peraih Beasiswa Unggulan Kemendikbud Kategori Masyarakat Berprestasi

PASKA DISAHKANNYA RUU Cipta Kerja menjadi Undang-Undang menuai reaksi yang berujung demonstrasi dimana-mana termasuk di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bupati selaku kader dan Ketua DPD Nasdem KBB turut dinanti responnya oleh masyarakat, mengingat Nasdem ialah partai koalisi pemerintah dan ikut menyetujui RUU Cipta Kerja meski sebetulnya sikap Nasdem setuju dengan beberapa catatan.

Dalam menghadapi demonstrasi buruh, KBB dinilai tidak seburuk Kabupaten/Kota lain yang ricuh bahkan terjadi kerusakan hingga pembakaran fasilitas umum.
Keberhasilan KBB dalam menghadapi demonstrasi buruh tidak terlepas dari gaya yang dimainkan oleh Aa Umbara. Bagaimana tidak, demonstrasi yang dilakukan di gedung DPRD KBB dan rencana akan dilanjutkan di Pemkab Bandung Barat langsung dihadapi oleh Umbara bahkan ikut berorasi di mobil komando bersama para buruh.

Sikap dan statement Umbara yang tegas memposisikan diri ada bersama dengan para buruh dan menolak RUU tersebut dinilai sudah seragam dengan buruh sehingga sulit bagi masa aksi untuk bersikap antipati terhadap Bupati.

Kematangan dan keberanian Umbara dalam menghadapi masa aksi tentu tidak datang tiba-tiba, Umbara memang pandai memainkan peran.
Dalam konteks menghadapi masa aksi, Umbara benar-benar bisa mengimplementasikan teori empati yang dikembangkan oleh Berlo dan Daniel Marner dan teori homofili yang diperkenalkan oleh Everet M. Roger dan F. Shomaker.

Teori Empati dan Teori Homofili berpendapat bahwa komunikasi yang berempati serta dibangun atas kesamaan (homofili) akan jauh lebih berpengaruh dan efektif. Proses empati dilakukan pembicara dengan cara menyelami jalan pikiran target penerima informasi yang disampaikannya. Sedangkan homofili dilakukan misalnya dengan melakukan pemberian informasi kepada massa yang memiliki kesamaan usia, ras, agama, ideologi, pandangan politik, dan sebagainya.

Jelas bahwa Umbara memahami posisinya sebagai Bupati tidak bisa lepas dari posisinya sebagai Ketua DPD Nasdem KBB yang harus dihadapkan dengan kebijakan partainya tidak berbanding lurus dengan apa yang diharapkan oleh para buruh di daerahnya. Maka Umbaralebih memilih menunjukan empati atas dasar kesamaan rasa bahwa keresahan buruh ialah keresahan Bupati dan hal itu diungkapkan oleh Umbara dengan suara lantang saat menghadapi demonstrasi buruh.

Tentu tanpa mengesampingkan peran Polres Cimahi yang dinilai humanis dalam mengantisipasi masa buruh di lapangan, kemudian disempurnakan melalui komunikasi empati dan homofili yang dimainkan oleh Umbara kericuhan pun tidak terjadi di KBB, buruh KBB melalukan aksi damai dan aspirasi para buruh pun tersampaikan.

Andai para kepala daerah melakukan hal ini sejak awal seperti yang dilakukan oleh Umbara, bukan tidak mungkin demonstrasi yang berujung ricuh tidak akan terjadi.