Hindari Efek Negatif Internet , GLS Harus Ditingkatkan

Ngamprah, BBPOS – Dinas Pendidikan KBB, mengajak kaum muda/siswa memaksimalkan manfaat media sosial untuk memproduksi konten positif serta menangkal konten negatif di internet.

Kepala Bidang (Kabid) SMP KBB, Dadang A Sapardan mengatakan, pemanfaatan internet oleh siswa harus dibarengi dengan sikap bijak, kreatif dan bertanggung jawab. Pasalnya, saat ini sebagian besar siswa sekolah mempunyai akses berselancar di internet.

“Kita semua harus memberi pehaman komprehensif terhadap pemanfaatan perangkat digital hanya untuk hal positif semata. Hal itu bisa dilakukan melalui program yang mendukung keterlahiran siswa yang literat digital,” kata Dadang, Selasa (29/9).

Selain itu pihak sekolah, kata Dadang, orang tua siswa dan masyarakat pun mempunyai peran penting untuk meningkatkan kompetensi (siswa) agar tidak mengarah pada hal yang negatif.

“Orang tua siswa dan masyarakat sebagai bagian dari tri pusat pendidikan mempunyai peran penting dalam mewujudkan pemanfaatan internet secara positif,” katanya.

Hingga saat ini, Kemendikbud telah mengemas penggunaan perangkat digital melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Hal tersebut dinilai dapat meningkatkan enam kemampuan literasi siswa.

“Terdapat enam kemampuan literasi dasar yang harus dimiliki oleh setiap siswa, yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewarganegaraan,” katanya.

Oleh karena itu, pihak sekolah harus membuat formulasi agar program tersebut dikemas dengan kreatif dan inovatif agar minat siswa dalam kegiatan GLS tersebut tinggi.

“Kemampuan literasi tersebut harus dikemas dalam berbagai kegiatan kurikuler, baik intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler. Dengan demikian, program yang diselenggarakan sekolah dapat mendorong lahirnya kompetensi literasi pada setiap siswanya,” jelasnya.

Dadang menegaskan, literasi digital merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap siswa. Penerapan kebijakan tersebut harus didorong sebagai respons atas masuknya kehidupan pada era revolusi industri 4.0 (computer/internet of things).

“Pendidikan harus berada pada garis terdepan dalam mengimplementasikan literasi digital. Ranah pendidikan harus merespon secara proaktif akan fenomena yang terjadi, termasuk menyikapi perubahan pada era kehidupan ini,” pungkasnya.