Cerita Heri, Potret Timpang Bansos KBB Tak Tepat Sasaran

Padalarang, BBPOS – Satu rumah di Kampung Sukamulya RT 03 Rw 25, Desa/Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami rusak parah.

Rumah milik Heri (28), rusak setelah tertimpa rumpun bambu akibat hujan lebat yang disertai angin besar pada Kamis (21/05/2020) lalu.

“Sekitar pukul 09.30 malam, tiba-tiba ambruk mengenai rumah saya. Kaget juga, soalnya lagi tidur,” ujar Heri kepada BBPOS.com, Jumat (22/05/2020).

Heri menjelaskan, kejadian ini sudah ke 3 kalinya pohon bambu tersebut mengalami kejadian yang membuat keluarga Heri khawatir.

Dengan ukuran kediaman Heri 3×2 meter itu membuat Heri memaksakan untuk tetap tinggal meski rasa ketakutan kerap menghantui ketika suara gemuruh angin terdengar.

“Pernah kan kebakaran awal Januari tahun 2020, lalu tumbang juga tapi ga parah. Nah kali ini mengenai rumah saya. Khawatir juga soalnya kan bagian bawahnya sudah rapuh,” terang Heri.

Ditengah pandemi virus Corona (COVID-19) Heri pun bingung mencari biaya untuk mengganti atap rumah yang hancur akibat hataman bambu yang cukup besar.

Sebab, dampak pandemi corona yang dialami olehnya memang cukup luar biasa. Terlebih dampak perekonomian yang harus mereka rasakan lantaran adanya pembatasan aktifitas warga ini.

Pasalnya banyak pekerja yang terpaksa dirumahkan untuk sementara waktu. Tak sedikit yang mulai kelabakan lantaran tidak ada pemasukan sementara pengeluaran dan tanggungan juga tetap harus dibayarkan.

“Tidur dengan keadaan atap bolong-bolong, soalnya bingung harus cari uang kemana,” kata dia.

Pria yang bekerja sebagai ojek online ini sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di wilayahnya. Hal itu membuat mata pencahariannya hilang 100 persen.

“Semenjak ada PSBB saya jadi kehilangan pendapatan saya, sudah 1 tahun saya menjadi ojek online dan sekarang untuk beli kebutuhan pokok pun sulit,” urai dia

Adapun selama kebijakan dirumahkan tersebut, Heri sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dari tempat ia bekerja. Meskipun ojek online dapat mengantar makanan, namun ia tidak memiliki modal untuk membeli ketika ada konsumen yang masuk ingin memesan makanan secara online.

Padahal di tengah pandemi wabah COVID-19, Banyak program untuk keluarga miskin dengan kucuran uang yang tidak sedikit dikampanyekan pemerintah. Dari pusat hingga daerah, para pejabat berkampanye bahwa mereke serius menangangi kemiskinan. Namun, sayang hal itu dianggap kurang tidak tepat sasaran.

Ironisnya, warga di sekitar lingkungan tempat tinggalnya yang ekonominya lebih mapan justru malah mendapat bantuan dari pemerintah. Kehidupan mereka jauh lebih baik dibanding Heri, tetapi mereka yang justru mendapatkan bantuan.

“Ga ada bantuan apapun selama saya dirumahkan. Gapapa, namanya bantuan kan hoki-hokian ya. Yang penting saya berharap wabah ini cepat selesai aja,” urai dia seraya tersenyum.