Cerita Nenek Rukayah dan Mak Anah Bertahan Hidup di Usia Senja

Padalarang, BBPOS –  Semua orang tentu mendambakan kehidupan yang menyenangkan saat memasuki usia senja. Menikmati indahnya mentari pagi maupun sekedar jadi penikmat matahari sore hari.

Namun lain halnya, bagi Anah (87) dan Rukiyah (77), dua wanita lanjut usia (lansia) asal Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat ini. Pada Minggu (22/9/2019) kemarin nyaris tertimpa tembok bangunan rumahnya yang “Reyot”.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tuk sekedar bertahan hidup, dua wanita lansia tersebut harus berjalan puluhan kilometer untuk berjualan gorengan dan telur asin. Padahal kondisi fisiknya sudah tak sekuat dulu lagi.

Perempuan renta yang tidak memiliki anak dan suami ini mengaku terpaksa berjualan tidak memiliki anak dan suami tuk dijadikan sebagai tulang punggung keluarga.

Bagi keduanya berjualan menjadi pilihan hidup daripada mengemis di pinggir jalan untuk mengais rezeki dari belas kasihan orang lain. Ia yakin Allah akan selalu memberi rezeki bagi setiap orang yang mau berusaha.

Kendati demikian, acapkali saat berjualan, banyak orang yang simpati mendatangi emak Anah dan Rukiyah. Mereka tidak membeli dagangannya, melainkan memberikan sedekah.

“Banyak yang menghampiri saya tidak membeli dagangan. Malah kadang memberi sedekah,” kata Dia.

Seiring dengan bertambahnya usia, dua wanita lansia ini tak gentar terus berusaha berjualan meski kondisi kesehatan fisiknya makin menurun. Ia mengaku fisiknya mudah lelah dan kakinya sering sakit.

Namun demikian, hal tersebut ikhlas ia lalui, karena tidak ada cara lain untuk dapat bertahan hidup selain terus berikhtiar tanpa lelah.

“Emak tos teu gaduh caroge, sadidinteun emak icalan kie we ka daerah Sodong jeung Kotabaru (Emak sudah tidak memiliki suami, sehari-hari emak jualan begini saja ke wilayah Sodong dan Kotabaru),” Ujar Rukiyah saat diwawancara BBPOS.com, Senin (23/9/2019).

Adapun telur asin yang dijualnya bukanlah miliknya sendiri, melainkan milik salah seorang warga yang sudah lama dikenal.  Dari hasil penjualan, Rukiyah dan Anah menerima jatah uang 50 persen dari hasil jualan.

Keseharian dua wanita lansia dimulai sejak pagi, mereka pergi ke tempat bandar telur asin untuk menjemput rezeki. Dengan berjualan selama kurang lebih 8 jam, rata-rata dirinya dapat mengantongi pendapatan Rp 20.000 hingga Rp 40.000.

“Ah da endog ge emak mah ngan nyandak sapuluh siki, tara seeur (ah telur juga saya hanya mengambil sepuluh biji, tidak banyak),” ucap Rukiyah dengan lirih.

Jumlah yang didapat itu, kata dia, tak selalu sesuai dengan harapan. Bahkan pernah suatu waktu ia pulang dengan tangan hampa tanpa membawa rupiah sepeser pun lantaran barang dagangannya tak satu pun ada yang laku.

“Kalau kuat jalannya, pulang ya jalan kaki tapi kalau ga kuat. Upahnya habis dipakai naik angkutan umum,” papar dia.

Anah dan Rukiyah yang ditemui di rumah mungilnya tampak sudah mengemas barang-barang yang akan dijual untuk siang ini. Kendati terkadang gerakannya pun agak terhambat lantaran tidak sekuat dulu.

Baki yang sudah terisi 10 gorengan bala-bala dan 10 biji telur asin sudah dibungkus dengan rapi. Bentuk rumah Anah dan Rukiyah, bagian depan memanjang dengan ukuran lebar berbentuk L. Sementara di bagian belakang rumahnya terdiri dari kamar tempat tidur, satu kamar mandi dan dapur.

Di dalam rumahnya dijumpai banyak barang yang tertumpuk, dan sejumlah kayu bakar, dan bungkus rokok. Tak ada televisi dan perabot mewah di rumah mungil sang nenek. Hanya ada meja dan kursi memanjang terbuat dari papan dan tempat tidur beralas tikar plastik.

Rukiyah bercerita, ia menempati rumah tersebut sudah satu tahun lalu. Berukuran 4×5 meter. Saat ini, huniannya pun terbilang sudah tak layak untuk dihuni.

Ditanya suami dan anak, Anah dan Rukiyah mengaku sudah tidak memilikinya. Ia mengaku, suaminya sudah belasan tahun meninggalkan dirinya.

Lantaran peristiwa itu, Anah dan Rukiyah enggan menyebut nama suaminya. Ia juga tidak memiliki anak selama berumah tangga dengan mantan suaminya itu.

“Dirumah, emak kadang berdua, terkadang sama keponakan dan anak-anaknya,” ucap dia.

Meski hidup menggantungkan pada berjualan, dua wanita lansia tersebut tak pernah menyerah untuk terus bertahan menyambung hidup. Tak lupa ia selalu berdoa agar Sang Pencipta memberi umur panjang dan kesehatan.

“Mugi-mugi gusti Allah nga’paparingan terus sehat sareng rejeki (Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan rejeki),” harap nenek. (Wit)