Implementasi Ayat-Ayat Sosial

Momentum Ramadhan Bulan Berkah?

Pada bulan Ramadhan aktifitas ibadah vertikal maupun horizontal meningkat. Tarawih, tilawah, i’tikaf dan lain semisalnya semarak dilaksanakan di surau maupun di masjid jami’. Demikian juga dengan ibadah sosial seperti zakat dan kepedulian sosial lainnya ikut meningkat. Secara empirik oleh kasat mata, pengalaman pribadi telah merasakan betapa banyak komunitas orang berlomba tebar kebaikan di bulan Ramadhan ini.

Peningkatan aktifitas ibadah tersebut merupakan tanda (ayat) empris bahwa dengan berpuasa kita dilatih menjadi orang yang total dalam bertakwa. Sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa bertujuan untuk mewujudkan ketakwaan. Salah satu ciri ketakwaan seseorang adalah peduli sosial seperti berderma. Hal itu tertulis dalam Q.S. Ali Imran Ayat 133-134 Allah berfirman yang artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.


Dari ayat tersebut nampak jelas bahwa kedermawanan merupakan ciri orang bertakwa. Sifat demawan muncul atas dasar kepedulian sosial. Hal itu diperkuat dengan penelitian Yuli Irani Bilgis (2007) dari Fakultas Psikologi UIN Malang. penelitiannya menyimpulkan bahwa puasa merupakan salah satu faktor pengasah empati (kepedulian). Jelaslah bahwa puasa menjadikan seseorang bertakwa sekaligus juga menjadikan orang mudah berderma karena memiliki sifat empati. Sehingga, tidak heran pada bulan puasa banyak orang yang berderma.


Menurut hemat penulis, inilah yang disebut bulan ramadhan bulan berkah. Pertanyaanya, darimana istilah bulan Ramadhan disebut bulan berkah? Secara eksplisit Nabi Muhammad SAW telah menyatakannya dalam hadits riwayat Imam Ahmad. Beliau bersabda:


قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ
Artinya: “Telah datang kepada kalian bulan ramadhan bulan yang penuh berkah…” (HR. Ahmad)

Lantas, apa berkah itu? Dalam kamus Al-Munawwir, kata berkah berasal dari bahasa Arab: barokah (بركة), artinya nikmat. Imam Al-Ghazali dalam Ensiklopedia Tasawuf mendefiniskan berkah dengan arti ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan”. Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: Tumbuh, berkembang, atau bertambah; Kebaikan yang berkesinambungan. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi”. Dengan demikian, bulan Ramadhan bulan berkah adalah bahwa pada bulan Ramadhan terjadi penambahan intensitas atau peningkatan ibadah secara individu maupun sosial.


Dari ayat Al-Qur’an dan Hadits yang telah disebutkan diatas, kita menemukan dalil (petunjuk) bahwa puasa mendidik kita menjadi orang yang bertakwa dan bulan ramdahan merupakan bulan berkah. Kemudian, Pembuktian nyata nya (empirical evidence) kita dapatkan di kehidupan sosial kita. Sebagaimana Yuli Irani Bilgis telah membuktikan melalui penelitainnya bahwa puasa merupakan salah satu faktor pengasah empati (rasa peduli).


Implementasi Ayat-Ayat Sosial


Manusia merupakan makhluk sosial. filsuf Aristoteles menyebut istilah makhluk sosial dengan istilahnya zoon politicon. Dalam pendapat ini, Aristoteles menerangkan bahwa menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Demikian pula dengan Adam Smith, ia menyebut istilah mahkluk sosial dengan Homo Homini socius, yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya.


Kehidupan sosial menjadi ayat-ayat sosial yang dapat kita jadikan rambu-rambu kehidupan. Rambu-rambu tersebut perlu dipatuhi agar hidup diberkati dan terhindar dari kehinaan. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qu’an surat Ali Imran ayat 122 bahwa manusia ditimpakan sebuah kehinaan dimanapun ia berdomisili kecuali yang berpegang teguh kepada tali Allah (agama) dan berinteraksi positif dengan sesama manusia (sosial). Allah berfirman:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْل مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ


Artinya: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (Q.S. Ali Imran [3]:112)


Lantas bagaimana implementasi ayat-ayat sosial dalam kehidupan? Saya akan mengilustrasikannya dengan model bercocok tanam. Mengapa diilustrasikan dengan bercocok tanam? Karena kita hidup di dunia yang merupakan tempat cocok tanam bagi kehidupan akhirat nanti.

a. Miliki Pengetahuan ber-sosial


Merupakan sebuah ketetapan bahwa manusia dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Hikmah dari kejadian tersebut adalah supaya manusia saling mengenal (ta’aruf) satu sama lain, sebagaimana Q.S. Al-Hujurat ayat 13. Kata ta’aruf satu bentuk kata dengan ‘arafa yang artinya mengetahui. Oleh karena itu, dalam hidup bersosial maka kita dituntun untuk memiliki pengetahuan sosial. Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial maka kita perlu ngaji kehidupan Sosial.


b. Menebar dan Menanam Value Sosial


Setelah kita mengetahui pengetahuan sosial, disana akan dijumpai nilai-nilai (Values) sosial yang perlu kita tebar. Kalau kata orang sunda bilang nebar bibit. Lantas apa yang menjadi nilai-nilai sosial ? Nilai sosial adalah nilai yang berkaitan dengan baik dan buruknya aktivitas dipandang dari sisi sosial masyarakat. Tentu, yang perlu kita tebar adalah sisi baiknya. Sebagai salah satu contoh nilai-nilai sosial yang baik di masyarkat adalah tolong menolong, peduli sosial dan empati terhadap orang lain. Al-Qur’an dan hadits telah memberikan arahan kepada kita agar kita saling tolong menolong dalam kebaikan dan peduli terhadap sesama.
Termaktub dalam Q.S. al-Mâidah [5] ayat

2 Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ


Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Hadits Nabi memberikan motivasi bagi kita semua bahwa barang siapa yang menolong saudaranya, maka Allah pun akan menolong orang tersebut. 

اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًـا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.


Artinya: Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allâh akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allâh menutupi (aib)nya pada hari Kiamat. (H.R. Bukhori.).


c. Memupuk dengan Kepedulian Sosial


Setelahnya kita mengetahui nilai, menebar dan menanam, langkah berikutnya adalah kita memupuk. Salah satu pupuk yang dapat menjadi jembatan untuk terciptanya kesuburan adalah dengan memiliki sifat empati, merasakan penderitaan orang lain. Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan bahwa muslim yang satu dengan muslim yang lain adalah bersaudara, bagaikan satu bangunan dan bagaikan kesatuan tubuh.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim).


Pupuk lain yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang diantara manusia adalah dengan saling memberi hadiah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَهَادُوا تَحَابُّوا
Artinya: “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai“. (HR. Bukhari).


Dalam hadit lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ
Artinya: “Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang wanita meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya ujung kaki kambing.” (HR.Bukhari dan Muslim).


Kepedulian sosial di era revolusi industri 4.0 ini sudah sedikit tergerus dengan budaya individualistis. Oleh karena itu, kepedulian sosial perlu digiatkan kembali dengan berbagai aktifitas sosial sebagai langkah pemupukan. Pada satu sisi lain, kita juga dimudahkan untuk beraktifitas sosial seperti penggalangan dana sosial dengan menggunakan media sosial.


d. Memanen dan menikmati buah sosial

Apabila kita sudah mengetahui kehidupan sosial, menebar, menanam dan memupuknya, maka pada gilirannya kita akan memanen dan menikmati hasilnya. Salah satu hasil dari kepedulian sosial adalah akan terciptanya berbagai keberkahan hidup. Diantara hasilnya adalah kepedulian sosial, sifat empati, kedermawanan, saling tolong menolong. Sifat itu semua dibutuhkan oleh kita selaku makhluk sosial yang satu sama lain saling berinteraksi dan saling membutuhkan. Sifat-sifat yang tadi tersebut merupakan ciri-ciri orang bertakwa.


Jika suatu penduduk beriman dan bertakwa, maka Allah SWT akan menurunkan keberkahan, sebagaimana Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ


Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 96).


Epilog.

Ramadahan adalah bulan berkah sebagaimana Nabi telah bersabda. Dalam mengimplementasikan ayat-ayat sosial kita perlu Mengaji kehidupan Sosial, Menebar Bibit-bibit kepedulian Sosial, menanam Kepedulian Sosial, memupuk Kepedulian Sosial, bila itu telah kita lakukan, maka kita akan dapat memanen buahnya, menikmati hasilnya. Hasil dari itu semua adalah bahwa kita akan terhindar dari kehinaan dan akan diberkati oleh Allah SWT dengan kebaikan yang bertambah, berlimpah ruah. Hal ini sudah jelas tertulis dalam Al-Qur’an bahwa penduduk suatu negeri akan diberkati jika ia beriman dan bertakwa. Untuk mewujudkan keimanan dan ketakwaan, Allah SWT telah memberikan petujuk yaitu dengan cara puasa. Disamping itu juga, puasa merupakan jalan untuk menumpuhkan sifat empati, kedermawanan dan kepdulian yang itu semua merupakan tanda orang bertakwa.


Kini ramadhan sebentar lagi berakhir, semoga di selain ramadhan kita tetap bisa mengimplementasikan ibadah sosial dengan harapan Allah SWT menurunkan keberkahan kepada kita semua. Akhir tulisan ini saya kutipkan pernyataan Goenawan Mohamad yang menggelitik bagi kita “Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial” wallahu ‘alam.

Profil Asep Supriyadi, S.Pd.I.,M.Pd

  • Alumnus Pesantren Sukahideng Tasikmalaya
  • Alumnus Pesantren UII Yogyakarta
  • Alumnus Prodi PAI UII Yogyakarta
  • Alumnus Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan Kementrian Sosial
  • Pengisi Majlis Taklim “Al-Fauziah” Rajamandala Kulon, Cipatat Bandung Barat
  • Dosen STAI Al-Azhary Cianjur