Kisah Ilah dan Keluarga Di Rumah Bekas Kandang Domba

Ilah terlihat nampak terbiasa menikmati kondisi hidup bersama anaknya di dalam rumah bekas kandang domba, Selasa (26/3/2019). Foto:Bandungbaratpos.com/ Hendri Nasir

Padalarang, BBPOS – Di tengah gebyarnya program Bantuan Sosial (Bansos) yang didengungkan Pemerintah pusat maupun daerah saat ini, nyatanya belum menyentuh masyarakat secara menyeluruh.

Tidak terlalu jauh dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung Barat, Kantor Kecamatan Padalarang dan Desa Padalarang, tepatnya di Kampung Cidadap Rt 3 Rw 13 terdapat keluarga yang hidup di rumah bekas kandang domba.

Bangunan yang terbilang teramat sangat sempit 3 X 2 meter tersebut, dihuni oleh sembilan orang. Ironis memang, terbayang bagimana pengap dan sempitnya keluarga itu menghabiskan malam untuk sekedar bermimpi indah.

Dinding yang hanya terbuat dari karung dan kertas bekas semen tersebut hanya mampu menahan dinginnya malam dari terjangan angin yang menusuk kulit bahkan menahan suhu panas takkala musim panas tiba.

Ilah (40) yang merupakan penghuni rumah bekas kandang domba mengaku sedih dan sakit hati ketika melihat ketujuh anaknya menghabiskan malam diatas lantai papan yang hanya dilapisi tikar usang nan tipis.

Menurutnya, empat tahun bukan waktu yang sebentar menghabiskan waktu di dalam rumah yang seyogyanya menjadi tempat bercengkrama bersama keluarga yang selayaknya dialami orang lain pada umumnya.

“Ini takdir yang harus kami alami kang,” ujarnya lirih kepada BBPOS saat ditemui di rumahnya, Selasa (26/3/2019).

Ia mengatakan, dari penghasilan sang suami yang hanya menjadi buruh di pabrik batu dengan penghasilan Rp 200 ribu per minggu harus mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Untuk makan kami cukup cukupkan saja,” ujar ibu dari 7 orang anak tersebut.

Masih kata Ilah, keluarganya tidak sama sekali mendapatkan bantuan sosial yang diprogramkan oleh pemerintah pusat maupun daerah, baik Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indoseia Pintar (KIP), Rumah Tidak Layal Huni (Rutilahu) dan berbagai bantuan lainnya yang diklaim pemerintah sebagai solusi pemecahan masalah sosial ekonomi masyarakat.

“Kami tidak pernah mendapatkan bantuan apapun sampai saat ini,” katanya.

Ia berharap, ulurun tangan bantuan pemerintah dapat dirasakan olehnya dan keluarga. Betapa tidak, kondisi yang Ilah alami saat ini merupakan kondisi yang tidak ingin dialami oleh siapapun.

“Saya harap ada bantuan dari pemerintah,” harap istri Juhendi mengakhiri perbincangan bersama BBPOS.

Selain kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan, anaknya pun tidak mampu mengenyam pendidikan yang layak seperti anak seusianya. Ironis. (Dra/Dry)