Mengais Rupiah Di Antara Tumpukkan Sampah

Ditengah terik matahari, Mamat tanpa lelah memikul sekarung sampah plastik yang terkumpul, Jumat (22/32019). Foto: bandungbaratpos.com/suwitno

Cipatat, BBPOS – Siang itu matahari menunjukkan siapa dirinya, panas yang terik begitu terasa membakar kulit. Semilir angin dibarengi bau busuk yang menyengat begitu terasa menusuk hidung.

Tapi itu bukan halangan bagi mereka yang mengais rupiah diantara tumpukkan sampah di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang berada di Kabupaten Bandung Barat.

Diantara ribuan ton sampah yang menggunung dan terhampar luas di tanah seluas 25 hektare tersebut, puluhan pasang tangan begitu cekatan memilah dan memilih sampah untuk dijadikan rupiah.

Ironis memang, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka tidak lagi memikirkan efek buruk bagi kesehatan.

Betapa tidak, sampah-sampah yang membusuk tak ayal jadi santapan lezat sang lalat, bakteri penyakit pun hidup secara merdeka dan tumbuh subur disana.

Salah satunya Mamat (60), pria kelahiran 1959 tersebut mengaku sebenarnya enggan menekuni profesi sebagai pemulung. Namun faktor keadaan ekonomi harus memaksanya dirinya menjadi pemulung di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Mamat yang tinggal di samping TPA sampah Sarimukti tersebut mengatakan, disaat orang lain masih terlelap tidur atau menikmati sarapan pagi yang lezat. Ia usai melaksanakan solat subuh langsung bergegas berlomba dengan pemulung lain mencari sampah plastik yang bisa dijual ke pengepul.

Dengan harga kisaran Rp. 20.000 perkarung, sampah plastik yang Mamat kumpulkan satu persatu dipilah dan dipilih selama seharian penuh. Dalam sehari jika hasil perolehan sampah plastiknya bisa mencapai 2 sampai 3 karung perhari.

“Ini nasib saya, saya jalani setiap hari,”katanya lirih kepada BBPOS, jumat (22/32019).

Mamat menjelaskan, dari penghasilannya menjadi pemulung sampah di TPA Sarimukti, ia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup isteri dan kedua anaknya bersekolah.

“Alhamdulillah saya nikmati dan jalani profesi ini sebagai bentuk tanggung jawab saya kepada keluarga,” tambahnya.

“Dari kerjaan ini saya bisa menghidupi keluarga,” katanya.

Kendati demikian, ia mempunyai harapan dan cita cita besar kepada pemerintah, Mamat ingin mempunyai pekerjaan tetap walaupun tidak jauh dari profesi yang digeluti saat ini yakni menjadi pemulung sampah.

“Saya berharap saya mempunyai pekerjaan tetap, mudah mudahan pemerintah membuat mesin daur ulang sampah disini, saya mau jadi pegawainya, yang penting ada penghasilan tetap,” harapnya.

Dengan begitu kata Mamat, para pemulung disini (TPA sarimukti) bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

“Kalo ada mesin daur ulang sampah, sampah plastik bisa dibikin sesuatu yang lebih bermanfaat,” pungkasnya. (Suwitno)