Mengintip “Kampung Golok” di Cipongkor

Cipongkor, BBPOS – Kampung cipari yang terletak di sebelah selatan Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Kecamatan Cipongkor, menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa dari hasil produksi pandai besi.

Betapa tidak, kendati cukup dikenal sebagai penghasil kopi di Jawa Barat, namun kenyataannya masyarakat di kawasan tersebut, mempunyai keahlian lain yakni pandai besi.

Di kawasan itu, masyarakat Kampung Cipari lebih memilih berprofesi sebagai pengrajin golok untuk menunjang ekonominya. Meskipun, ada juga yang lebih memilih sebagai petani dan buruh.

Mayoritas pada rumah penduduk dijadikan sebagai bengkel pembuatan berbagai barang hasil pandai besi berupa golok, parang, arit, dan jenis lainnya. Entah dari mana dimulai, konon kemampuan pandai besi itu diturunkan dari pendahulunya.

Salah satu penduduk di Kampung Cipari yang masih setia menjadi perajin golok adalah Hendi. Ia mengaku sudah 30 tahun menekuni profesi sebagai perajin golok.

Ditangannya ratusan golok sudah dihasilkan, golok hasil karyanya dikirim ke pasar-pasar di wilayah Lampung, Banten dan luar daerah lainnya. Golok buatannya dijual dengan harga relatif terjangkau.

“Karna penampungannya di saya. Sekali pembakaran, bisa sampai puluhan golok saya buat. Paling banyak, sehari bisa buat 70 golok,” ucap Hendi saat ditemui di bengkel golok miliknya, Sabtu (9/2/2019).

Menurut dia, menjadi pengrajin golok itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Kemampuannya menciptakan golok diperolehnya dari orangtuanya yang juga didapat turun-temurun.

“Orangtua saya adalah pembuat golok. Itu diwariskan kepada saya,” kata dia.

Dibantu bersama enam karyawannya, Hendi mengaku hanya membuat golok berdasarkan pesanan saja. Dengan cara itu, dia dapat menghemat ongkos produksi.

“Pengrajin harus pintar dan kreatif membuka peluang, karena dukungan pemerintah masih sangat kurang. Ditambah kendalanya adalah peralatan,” imbuhnya

Hendi membuat golok dalam ukuran biasa dengan harga per satuannya sebesar Rp 35.000. Lebih lanjut Hendi, omset perbulan yang ia peroleh dalam sekali penjualan berkisar Rp 5 Juta.

“Ada juga orang yang pesen golok khusus. Kalau itu harganya beda lagi. Bervariasi, tergantung panjang dan bentuk golok yang diminta,” tutur dia.

Hendi berharap agar pemerintah bisa membantu para perajin untuk bisa bertahan. Pemerintah cenderung membiarkan perajin berjuang tanpa pendampingan.

Mayoritas dari perajin kecil memasarkan hasil kerajinannya di pinggir jalan atau pasar. Adapun perajin yang sudah menembus pasar ekspor lebih memilih berjualan lewat internet atau bekerja sama dengan pengepul di daerah lain.

“Kami ingin produksi golok ini diimbangi dengan pemasarannya juga,” harap pria 55 tahun tersebut. (Wit)