Pedagang Peuyeum di Bandung Barat Sulit Memperoleh Bahan Baku

Cimerang,BBPOS- Kabupaten Bandung Barat terkenal sebagai salah satu produsen oleh-oleh peuyeum Bandung yang dikenal luas sebagai ikon makanan khas Jawa Barat.

Sepanjang Jalan Raya Pamucatan hingga Jalan Raya Rajamandala para pedagang makanan olahan sinkong yang dipermentasi oleh ragi tersebut berjejer rapih dengan tampilan yang menggugah selera.

Dengan harga yang relatif terjangkau yakni Rp 15.000 per kilogram para wisatawan yang berasal dari Jakarta yang melalui jalur Cianjur menuju Bandung maupun arah sebaliknya bisa membawa pulang Peuyeum Bandung sebagai buah tangan dari Bandung Barat.

Salah seorang pedagang peuyeum Bandung di Jalan Raya Cimerang, Abah (55)mengatakan, dalam sehari dirinya mampu menjual hingga satu kuintal. Namun jika sepi dirinya hanya mampu menjual tidak lebih dari 10 kilogram peyeum Bandung.

“Kalo lagi rame,ya lumayan,”ujar Abah kepada BBPOS di kiosnya,Jalan Raya Cimerang,Kecamatan Cipatat,Sabtu (2/2/2019).

Ia menuturkan,penjualannya saat ini tergolong menurun drastis jika dibandingkan sebelum adanya tol Cipularang. Pasalnya, para masyarakat yang hendak berlibur ke Bandung dari Jakarta dan kota lainnya pasti menggunakan jalur Cianjur yang melintasi kawasan Bandung Barat yakni Rajamandala,Cipatat, dan Padalarang.

“Sebelum ada tol Cipularang sehari bisa mencapai satu ton (1000 kilogram),” ujar Abah yang memulai usaha menjual peuyeum Bandung sejak 1982.

Ia menambahkan, para produsen peuyeum juga saat ini terkendala masalah bahan baku pokok yakni singkong yang sulit diperoleh. Betapa tidak, lahan yang selama ini digarap warga telah diambil alih pemerintah untuk dijadikan lahan yang ditanami pohon.

Selain itu, alih fungsi lahan menjadi pemukiman juga menjadi salah satu faktor sulitnya bahan baku.

“Kalo beli dari daerah lain harganya tiga kali lipat, kalo dari masyarakat sini (Cimerang), singkong per kilogram Rp 3000,” katanya.

Sementara itu,ia berharap kepada Pemda Kabupaten Bandung Barat bisa menyediakan bahan pokok pembuatan peuyeum Bandung (singkong) dengan harga yang terjangkau.

“Kita kesulitan bahan baku,apalagi singkong dipanen setahun sekali,” pungkasnya. (Dra)