Literasi Pemilu Bagi Generasi Milenial

PEMUNGUTAN suara tinggal menghitung hari, tepatnya tanggal 17 April 2019 akan digelar pemilihan umum. Pada pemilu tahun 2019 ini, ada yang berbeda dengan pemilu tahun sebelumnya di mana pada pemilu 2019 pemilihan presiden dan wakil presiden diserentakkan dengan pemilihan calon DPD RI, DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kab/kota.

Pemilu menjadi sarana edukasi demokrasi di tanah air serta sebagai ajang pendidikan bagi generasi milenial terutama para pemilih pemula yang saat ini duduk di kelas 12 SMA/SMK/MA. Generasi milenial memiliki peran penting dalam membangun suasana dinamika politik yang saat ini tahapan-tahapannya sedang berlangsung.

Munculnya berbagai berita hoaks serta diskusi di media sosial yang secara gradual hilangnya etika berkomunikasi seperti ujaran kebencian dan sebutan yang tidak edukatif menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan agar hal tersebut dapat diantisipasi sehingga Pemilu 2019 dapat berlangsung dengan baik.

Salah satu peran penting dalam menangkal permasalahan tersebut yaitu peran guru dan para pelajar terutama yang sudah memiliki hak pilih. Apalagi di era revolusi industri 4.0 yang bersentuhan dengan internet karena kita tidak bisa lepas berkomunikasi melalui media sosial dengan orang lain.

Menghadapi Pemilu 2019, generasi milenial memiliki peran penting dalam berkontribusi mewujudkan Pemilu berkualitas, salah satunya yaitu peningkatan literasi Pemilu. Akses internet yang tidak lepas dari generasi milenial menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi terkait dengan Pemilu. Literasi dalam KBBI V merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Kemampuan mengolah informasi mengenai Pemilu merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh masyarakat. Terlebih bagi generasi milenial tidak lepas dari medsos yang tentunya informasi dapat diakses begitu cepat. Bahkan informasi tersebut dapat dikirim kepada orang lain dengan mudah. Maka generasi milenial dapat menjadi pelopor dalam menyajikan informasi yang benar serta menolak informasi yang terindikasi hoaks.

Literasi pemilu berkaitan dengan kemampuan mengolah informasi mengenai tahapan-tahapan Pemilu, mengenali calon presiden/wakil presiden, mengenali calon anggota legislatif (DPD, DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kab/kota) dan lain sebagainya. Bahkan masyarakat dapat mengenali serta memahami visi dan misi para kandidat calon presiden dan wakil presiden melalui acara debat yang sudah dimulai pada tanggal 17 Januari 2019.

Membiasakan diri melakukan cek and ricek, tabayyun, klarifikasi, dan membaca secara utuh merupakan hal yang harus dilakukan dalam menyikapi informasi yang bertebaran di media sosial. Sehingga kita tidak terjebak oleh pihak yang menyebarkan berita hoaks apalagi kita turut menyebarkan berita yang terindikasi hoaks tersebut.

Menurut Septiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax penulis kutip pada laman kominfo.go.id ada lima langkah yang dapat membantu dalam mengidentifikasi antara berita hoax dan berita asli di antaranya; 1. Hati-hati dengan judul provokatif, 2. Cermati alamat situs, 3. Periksa fakta, 4. Cek keaslian foto, dan 5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax.

Atas dasar itu, melalui literasi pemilu, generasi milenial dapat berkontribusi dalam menicptakan pemilu yang berkualitas, bahkan menjadi pelopor dalam mewujudkan pendidikan demokrasi yang beretika. Perbedaan pilihan adalah hal yang biasa namun yang luar biasa adalah menjaga persaudaraan sesama anak bangsa. Semoga.