Booming Bawang Merah dan Pengendalian Inflasi di Bandung Barat

Oleh : Jajat Hendrajat (Fungsional Statistisi Ahli Pertama pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat)

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat awal Oktober ini merilis angka inflasi gabungan di bulanOktober2018 sebesar-0,18 persen. Dengan kata lain terjadi deflasia taupenurunan harga secaraumum. Laju inflasi kumulatif (Tahunkalender) sampaidengan September sebesar 2,39 persen dan laju inflasit ahun ketahun sebesar 3,17 persen. Capaian inflasi tersebut dinilai cukup terkendali dan masih dalam kisaran target inflasinasionaltahun 2018 sebesar 3,5 persen sampai dengan 3.6persen.

Terjadinya deflasi saat ini merupakan kabar yang menggembirakan bagi masyarakat sebagai konsumen. Namun, dibalikdeflasi yang terjadi, terdapat polemik terkait penurunanharga yang terjadi saat ini khususnya untuk komoditas bawangmerah. Harga bawang merah beberapa minggu terakhir anjlok. Data harga Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat menunjukkan harga bawang merah di Pasar Andir Kota Bandung misalnya, mengalami penurunan yang signifikan selama bulan Okto berada di Rp. 26.000,- menjadiRp. 21.500,- di akhirbulan. Data Diperindag dan rilisinflasi BPS sendiri menunjukkan bahwa bawang merah menjadi komoditas kedua terbesar penyumbang terjadinya deflasi setelah daging ayam ras.

BOOMING BAWANG MERAH DI KABUPATEN BANDUNG BARAT.

Anjloknya harga bawang merah diakibatkan tingginya pasokan saat ini karena panen yang  relatif bersamaan.Di Kecamatan Parongpong yang terletak pada bagian utara Kab. Bandung Barat termasuk sentra hortikultura sayuran dan bunga potong. Petani mulai tertarik menanam bawang merah di manabiasanya bawangmerah cocok di tanam didataran rendah tapi sekarang di Kecamatan Parongpong pun baik tumbuh subur, dengan populasi luas panen bawang merah mencapai 9 hektar. Luas areal bawang merah di Desa Cihanjuang mencapai 7 Hektar ,di DesaCiwaruga 1 hektar, Desa Cigugur girang 1 Hektar, dengan bibit bawang merah sekitar 63.000 Kg. Dan hasil Produksipanen 441.000 Kg.

Penurunan harga bawang merah menguntungkan konsumen di satusisi namun merugikan petani bawang merah sebagai produsen di sisi lain. Para petani bawang merah saat ini menderita, karena hanyadapat menutupi biaya produksi yang telah dikeluarkan  sebelumnya. Penurunan kesejahteraan  petani komoditas ini juga tercermin pada indikator Nilai Tukar  Petani (NTP) Subsektor Hortikultura bulan September 2018. NTP Subsektor ini mengalami penurunan sebesar 1,38 persen jikadibandingkan dengan NTP bulan Agustus 2018. NTP merupakan proxy indikator kesejahteraan petani,yang membandingkan antara perubahan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. NTP yang menurun menunjukkan kemampuan daya beli petani  menurun, sebagai akibat kenaikan harga barang yang dijual atau diproduksinya lebih lambat dibandingkan kenaikan harga biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari termasuk biaya usaha pertaniannya.

PENGENDALIAN INFLASI

Bulan Mei danJunilalu, masyarakat di resahkan dengan harga bawang merah yang melonjak tinggi di pasaran. Selain karena pasokan terbatas, momen puasa dan lebaran menjadikan permintaan akan komoditas bawang merah meningkat. Saat itu juga bawang merah memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi yang terjadi.

Berbagai upaya telah di lakukan oleh TPID dalam menjaga pasokandan pengendalian harga bawang merah. Salah satunya adalah pengembangan penanaman bawangmerah agar tidak terpusat d isatu sentra produksi saja. Diharapkan dengan keberhasilan pengembangan bawang merah di beberapa tempat dapat mengatas ipermasalahan pasokan bawang merah saat ini, sehingga harga bawang merah tetap terkendali.

Sejatinya upaya pengendalian inflasi adalah menjaga kestabilan harga komoditas.Tidak hanya menjaga agar harga komoditas tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Namun menjaga kestabilan harga. Dalam konteks pengendalian inflasi, hal yang utama adalah menjaga kestabilan harga. Inflasi bukanlah sesuatu yang buruk selama dalam batas yang wajar. Deflasi juga bukanlah suatu hal yang baik jika terjadi terus menerus. Demikianlah pemerintah berupaya untuk menjaga titik keseimbangan harga yang tidak memberatkan konsumen di satu sisi, serta tidak merugikan produsen di sisi yang lain.Upaya pengendalian inflasi tidak semata menjaga agar harga tidak melonjak naik, tapi sekiranya juga menjaga agar tidak terjadi anjloknya harga komoditas di pasaran. Permasalahan selama ini terutama dalam mengendalikan harga komoditas pangan yang sering bergejolak. Selain bawangmerah, komoditas cabai, daging ayam ras dan telur ayam ras merupakan komoditas yang sering menghiasi daftar penyumbang inflasi tertinggi khususnya di Kabupaten Bandung Barat  dan Propinsi Jawa Barat.